-
Passion Bukan Sekedar Kesenangan
Kita sering berbicara tentang passion seolah-olah ia adalah sesuatu yang sederhana: hal yang kita sukai, hal yang membuat kita senang, atau aktivitas yang ingin kita lakukan sepanjang waktu.
Menurutku, pemahaman ini terlalu dangkal. Tidak semua hal yang kita sukai adalah passion. Dan tidak semua aktivitas yang membuat kita terus melakukannya layak disebut passion.
Beda Passion dan Addiction
Passion itu produktif. Ia mendorong kita untuk mencipta, belajar, memperbaiki diri, dan berkembang. Kita menginvestasikan waktu dan energi ke dalam sesuatu, lalu sesuatu itu—secara langsung atau tidak langsung—memberikan nilai kembali kepada kehidupan kita.
Sementara itu, adiksi cenderung konsumtif. Ia menguras waktu, perhatian, dan energi tanpa benar-benar membawa kita ke mana-mana. Kita terus mengonsumsinya, tetapi setelah selesai, kita tidak menjadi lebih mampu, lebih memahami, atau lebih berkembang. Sering kali kita hanya kembali ke titik awal dan ingin mengulanginya lagi.
Keduanya bisa sama-sama menyenangkan. Keduanya bisa membuat kita rela menghabiskan waktu berjam-jam. Bahkan, keduanya bisa membuat kita berkata, “Aku suka melakukan ini.”
Passion tidak selalu menyenangkan
Justru kesalahpahaman terbesar tentang passion adalah anggapan bahwa passion selalu terasa menyenangkan. Menurutku, passion bukanlah sesuatu yang membuat kita selalu menikmati setiap prosesnya.
Kalau kita melihat orang yang benar-benar menekuni sesuatu—musisi, atlet, programmer, penulis, pengusaha, atau ilmuwan—hampir pasti ada bagian dari pekerjaannya yang tidak mereka sukai.
Seorang penulis mungkin suka menuangkan gagasan, tetapi tidak selalu menikmati proses menyunting tulisan berulang kali atau memasarkan tulisannya.
Seorang programmer mungkin menikmati memecahkan masalah, tetapi tidak menikmati debugging selama berjam-jam atau membaca dokumentasi yang membosankan.
Seorang pelari mungkin menikmati sensasi berlari, tetapi tidak selalu menikmati bangun pagi, berlatih ketika cuaca buruk, atau menjalani latihan yang monoton.
Namun mereka tetap melakukannya. Justru di situlah passion sebenarnya terlihat.
Passion bukan hanya tentang hal yang membuat kita senang. Passion adalah sesuatu yang membuat kita tetap melakukannya bahkan ketika prosesnya tidak menyenangkan.
Kita mungkin menyukai hasilnya, menyukai maknanya, atau percaya pada tujuan yang ingin dicapai, dan karena itulah kita bersedia menerima bagian-bagian yang tidak kita sukai.
Kesenangan terhadap sesuatu mungkin membuat kita memulai. Tetapi passion membantu kita bertahan.
Passion menghasilkan sesuatu
Tidak semua passion harus menghasilkan uang. Tidak semua harus menjadi karier. Dan tentu saja, tidak semua aktivitas harus diukur berdasarkan produktivitas.
Tetapi aku percaya bahwa sesuatu yang kita sebut passion biasanya meninggalkan jejak. Ada sesuatu yang bertambah.
Pengetahuan kita bertambah. Kemampuan kita meningkat. Pemahaman kita menjadi lebih dalam. Sebuah karya tercipta. Tubuh menjadi lebih kuat. Sebuah masalah berhasil dipecahkan. Atau mungkin kita menjadi pribadi yang sedikit berbeda dibandingkan sebelumnya.
Itulah sebabnya aku melihat passion sebagai sesuatu yang produktif. Bukan semata-mata karena ia menghasilkan uang atau karya besar, tetapi karena energi yang kita berikan kepadanya tidak hilang begitu saja. Energi itu berubah menjadi sesuatu.
Sebaliknya, aktivitas yang bersifat adiktif sering kali meminta lebih banyak energi dari waktu ke waktu, tetapi tidak meninggalkan banyak hal ketika kita berhenti. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk mengulanginya.
Apa passion saya?
Kita terlalu sering mencari jawaban untuk pertanyaan:
“Apa passion saya?”
Seolah-olah passion adalah sesuatu yang tersembunyi di dalam diri dan suatu hari nanti akan ditemukan seperti harta karun.
Mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Apa yang bersedia saya tekuni bahkan ketika prosesnya tidak selalu menyenangkan?”
Karena menyukai sesuatu ketika semuanya menyenangkan bukanlah sesuatu yang sulit. Yang sulit adalah tetap melakukannya ketika kita sedang bosan. Tetap belajar ketika kita merasa lambat. Tetap berlatih ketika hasilnya belum terlihat. Tetap memperbaiki sesuatu ketika kita sudah berkali-kali gagal.
Mungkin passion tidak selalu dimulai dari rasa cinta yang besar. Mungkin ia justru tumbuh dari keterlibatan yang panjang. Dari rasa penasaran yang terus dipelihara. Dari keputusan untuk kembali lagi, belajar sedikit lagi, dan mencoba sekali lagi.
Dan ketika energi yang kita berikan kepada sesuatu mulai membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, mungkin saat itulah kita bisa mengatakan bahwa kita tidak sekadar menyukainya.
Mungkin kita benar-benar memiliki passion terhadapnya.