sela

Apakah Jalan Raya Bisa Lebih Aman?

Beberapa waktu terakhir aku kembali bersepeda untuk pergi bekerja. 2-3 kali dalam sepekan, pulang-pergi sekitar 20 kilometer, menyusuri jalanan Yogyakarta. Setelah terbiasa lebih sering bersepeda, mengayuh pedal bukan jadi hal yang melelahkan. Yang masih terasa melelahkan bagiku adalah suasana jalannya.

Motor menyalip dari kiri dan kanan. Mobil saling berebut ruang. Semua orang seperti sedang berlomba menjadi yang paling dulu sampai di tujuan. Belum lagi ditambah bising suara raungan knalpot dan klakson saling bergantian.

Aku sering bertanya-tanya dalam hati.
Apakah memang harus seperti ini keadaan jalan raya kita?
Padahal jalan adalah ruang yang kita bagi bersama.
Di sana ada pekerja yang sedang berangkat mencari nafkah.
Ada anak-anak yang berangkat menuju sekolah.
Ada orang tua yang ingin menyeberang.
Ada pesepeda yang hanya ingin pulang dengan selamat.

Bukankah seharusnya jalanan jadi tempat yang aman dan nyaman bagi penggunanya?

Sementara yang aku rasakan justru sebaliknya.
Lelah karena merasa tidak aman.
Lelah karena harus terus waspada.
Lelah karena menghirup udara yang penuh asap kendaraan.

Aku yakin pengalaman ini bukan cuma aku yang ngerasain.
Banyak orang sebenarnya ingin berjalan kaki lebih sering.
Banyak yang ingin mengantar anak dengan sepeda.
Banyak yang ingin bersepeda ke kantor jika memungkinkan.

Tapi ada satu kegelisahan yang muncul lebih dulu di pikiran.
Apakah jalannya cukup aman?

Belajar dari Amsterdam

Aku sempat berpikir bahwa kondisi seperti ini wajar.
Bahwa memang semua kota pada akhirnya akan dipenuhi mobil dan sepeda motor.
Bahwa memang kemajuan harus dibayar dengan jalan yang semakin ramai.
Sampai kemarin aku baca sejarah Kota Amsterdam.

Hari ini kita mengenal Amsterdam sebagai kota sepeda. Namun enam puluh tahun lalu, kota itu sedang bergerak ke arah yang sama seperti banyak kota lain di dunia. Mobil semakin banyak. Jalan semakin didominasi kendaraan bermotor. Ruang kota perlahan berubah mengikuti kebutuhan mobil.

Lalu kecelakaan lalu lintas meningkat. Yang paling menyentuh hati, korbannya banyak anak-anak. Pada tahun 1971, lebih dari 3.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Belanda, termasuk lebih dari 400 anak-anak. Angka itu memunculkan kemarahan masyarakat dan melahirkan gerakan Stop de Kindermoord—Stop Pembunuhan Anak-anak. Ini bukan gerakan anti-mobil, melainkan gerakan yang mempertanyakan satu hal sederhana: Mengapa jalan tidak lagi aman bagi anak-anak?

Aku suka kisah sejarah ini karena perubahan tidak berfokus pada kendaraannya, bukan mobil vs sepeda. Fokusnya adalah keselamatan manusia. Yang diperjuangkan bukan gaya hidup tertentu. Bukan olahraga. Bukan identitas tertentu. Melainkan hak setiap orang untuk pulang ke rumah dengan selamat.

Perubahannya tidak terjadi dengan instan. Butuh puluhan tahun. Pemerintah, perencana kota, komunitas, dan warga bersama-sama mengubah cara mereka mendesain jalan. Mereka mulai bertanya siapa yang paling rentan ketika menggunakan jalan, lalu mendesain kota agar orang-orang itulah yang pertama kali terlindungi. Ini soal menentukan prioritas.

Dari sana, hal-hal lain mulai mengikuti. Semakin banyak orang berjalan kaki. Semakin banyak yang bersepeda. Udara menjadi lebih bersih. Lingkungan menjadi lebih tenang. Anak-anak memiliki ruang untuk bergerak. Interaksi antartetangga kembali hidup. Sepeda bukanlah tujuan akhirnya. Sepeda justru hanya jadi salah satu akibat dari kota yang terasa aman.

Pelajaran itulah yang bagiku paling mengesankan. Selama ini kita sering berdebat tentang moda transportasi. Mobil atau sepeda. Motor atau angkutan umum. Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: Seperti apa kota yang ingin kita bangun? Apakah kota yang membuat semua orang harus selalu ekstra waspada? Atau kota yang membuat anak-anak bisa pergi ke sekolah, orang tua bisa berjalan kaki ke pasar, dan seorang pesepeda bisa pulang tanpa merasa sedang mempertaruhkan nyawanya?

Aku tidak menulis ini karena ingin Yogyakarta menjadi Amsterdam. Setiap kota memiliki sejarah, budaya, dan tantangan yang berbeda. Aku juga tidak berpikir perubahan seperti ini bisa terjadi dalam waktu singkat. Namun sejarah Amsterdam memberi sebuah harapan.

Kalau sebuah kota yang pernah begitu bergantung pada mobil bisa perlahan berubah, berarti kondisi sebuah kota bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Ia adalah hasil dari banyak keputusan yang dibuat selama bertahun-tahun. Dan mungkin, perubahan besar bisa dimulai dari pertanyaan yang sederhana. Bagaimana jika jalan kita dirancang bukan untuk membuat kendaraan melaju secepat mungkin, tetapi untuk membuat setiap orang bisa pulang dengan selamat?


Referensi

Aku menyertakan beberapa sumber yang menjadi dasar agar tulisan ini tidak berhenti hanya sebagai kisah yang terdengar indah.

#jurnal