sela

Dop Motor dan Pentingnya Memilih Teman

Waktu kecil, aku sering bermain bersama kakakku dan teman-teman sebayanya. Kami biasanya hanya melakukan hal-hal sederhana: berjalan keliling kampung, melihat-lihat sesuatu yang menarik, lalu pulang saat sudah bosan.

Suatu hari, teman kakakku yang ikut bermain bukan teman yang biasanya. Aku tidak begitu mengenalnya. Sebut saja namanya Damski.

Seperti biasa, kami berjalan tanpa tujuan yang jelas. Sampai di suatu titik, Damski tiba-tiba masuk ke sebuah gang kecil.

Di samping sebuah rumah, ada sebuah motor yang sedang diparkir.

Tiba-tiba Damski menunduk sambil mengendap-endap.

Tangannya mengambil sesuatu dari motor itu—sebuah dop (penutup pentil ban) custom yang berkilau. Saat itu benda seperti itu memang sedang tren.

Belum sempat kami berbuat apa-apa, terdengar suara dari dalam rumah.

“Maling!”

Darahku langsung terasa berhenti.

Damski berlari.

Kakakku ikut berlari.

Dan aku, karena takut tertangkap, refleks ikut berlari juga.

Masalahnya, aku yang paling kecil. Lari mereka berdua jauh lebih cepat daripada aku. Jantungku rasanya mau copot. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku diteriaki sebagai maling.

Kami terus berlari sampai akhirnya tidak kuat lagi dan berhenti.

Aku masih terengah-engah dan ketakutan. Aku bahkan memohon kepada kakakku supaya kami pulang saja.

Sementara itu, Damski sudah kembali santai. Ia tertawa-tawa seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku masih ingat perasaan itu sampai sekarang.

Bukan hanya karena aku takut tertangkap. Tetapi karena hari itu, tanpa benar-benar memahaminya, aku belajar sesuatu tentang teman.

Memilih Teman itu Penting

Kita tidak selalu melakukan sesuatu karena kita ingin melakukannya. Kadang kita melakukannya karena orang di sekitar kita melakukannya.

Kita ikut berjalan ke tempat yang tidak seharusnya kita datangi. Ikut mencoba sesuatu yang seharusnya tidak kita coba. Ikut menertawakan sesuatu yang sebenarnya tidak lucu. Dan kadang, sebelum sempat berpikir apakah sesuatu itu benar atau salah, kita sudah terlanjur melakukannya.

Itulah mengapa memilih teman menjadi penting.

Teman bukan hanya orang yang menemani kita ketika bersenang-senang. Mereka juga sedikit banyak menentukan ke mana kita berjalan.

Teman yang baik bisa membuat kita menjadi lebih baik. Mereka bisa mengingatkan ketika kita mulai salah arah, bahkan mungkin mencegah kita melakukan sesuatu yang akan kita sesali.

Sebaliknya, teman yang buruk bisa membuat sesuatu yang salah terasa biasa. Sedikit demi sedikit, batas antara benar dan salah bisa menjadi kabur karena kita terlalu sering melihatnya dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita.

Aku tidak mengatakan bahwa seseorang pasti menjadi baik atau buruk hanya karena teman-temannya. Manusia tetap punya kehendak dan tanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Tetapi lingkungan punya pengaruh yang besar.

Banyak orang yang akhirnya terjerumus ke dalam kehidupan yang kelam bukan karena pada awalnya ia ingin hidup seperti itu, melainkan karena ia terlalu lama berada di lingkungan yang membawanya ke sana.

Mungkin karena itu, semakin dewasa aku semakin memahami bahwa memilih teman bukan perkara sepele.

Kita tidak hanya memilih dengan siapa kita menghabiskan waktu.

Secara tidak langsung, kita juga sedang memilih orang-orang yang akan ikut membentuk diri kita.