Hermawan Kertajaya Thinking on Organisation
Organisasi membutuhkan dua kelompok kapabilitas: kemampuan menciptakan sesuatu yang baru (kewirausahaan) dan kemampuan menjalankan sesuatu dengan baik (manajemen).
Dalam pemikiran Hermawan Kartajaya, kedua kelompok ini dirangkum dalam konsep CIEL dan PIPM.
CIEL mewakili kapabilitas kewirausahaan:
- Creativity: menghasilkan ide baru.
- Innovation: mewujudkan ide menjadi sesuatu yang bernilai.
- Entrepreneurship: melihat peluang dan mengambil inisiatif.
- Leadership: menentukan arah dan menggerakkan orang.
PIPM mewakili kapabilitas profesionalisme:
- Productivity: menghasilkan output secara efektif.
- Improvement: menyempurnakan proses secara berkelanjutan.
- Professionalism: bekerja dengan kompetensi dan standar yang konsisten.
- Management: mengelola sumber daya dan pelaksanaan.
Contoh: Korporasi vs. startup
Korporasi besar biasanya memiliki proses, sumber daya, dan standar operasional yang matang. Keunggulannya adalah kemampuan menjalankan bisnis secara konsisten. Namun, jika terlalu terpaku pada prosedur, organisasi bisa lambat merespons perubahan.
Sebaliknya, startup biasanya lebih leluasa bereksperimen, mencoba pendekatan baru, dan mencari peluang pasar. Namun, tanpa manajemen dan profesionalisme yang baik, startup bisa kesulitan menjaga kualitas dan mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan.
Tentu, ini kecenderungan umum, bukan aturan mutlak. Korporasi juga bisa inovatif, dan startup juga bisa sangat disiplin dalam operasional.
Bukan memilih, melainkan menyeimbangkan
Kita sering menganggap kreativitas dan produktivitas, inovasi dan perbaikan, atau kepemimpinan dan manajemen sebagai dua hal yang bertentangan. Padahal, keduanya saling melengkapi.
Organisasi yang hanya berfokus pada efisiensi berisiko terus mengoptimalkan sesuatu yang sudah tidak relevan. Sebaliknya, organisasi yang terus mengejar inovasi tanpa membangun proses yang baik bisa kehabisan sumber daya sebelum mencapai hasil.
Kreativitas tanpa eksekusi hanya menghasilkan ide. Eksekusi tanpa kreativitas berisiko membuat kita semakin efisien dalam melakukan hal yang salah.
Tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan mengetahui kapan harus bereksperimen, kapan harus memperbaiki, dan bagaimana menjalankan keduanya secara berkelanjutan.
Catatan: Tulisan ini merupakan interpretasi pribadi atas konsep yang saya catat dari podcast bersama Hermawan Kartajaya.