sela

Hobi dan Preferensi

Beberapa kawan mengatakan aku beruntung karena istriku punya hobi yang sama. Mereka melihat kami naik gunung bersama, bersepeda bersama, lalu membuat kesimpulan seolah semuanya berjalan mulus. Jujur, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Punya hobi yang sama dengan istri bukan berarti aku tidak punya masalah sama sekali. Justru setelah sering melakukan aktivitas hobi bersama, kami mulai menyadari bahwa meskipun kami menjalani hobi yang sama, tetap saja banyak perbedaan dalam detilnya. Dan percayalah itu bisa jadi sumber masalah.

Sumber masalahnya tidak terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan caraku menyikapinya.

Di masa-masa awal, aku sering mencoba menginfluence—bahkan kadang tanpa sadar memaksa—istriku untuk mengikuti caraku menikmati sebuah hobi. Ambil satu contoh dalam mendaki gunung, menurutku mendaki akan lebih menyenangkan jika membawa perlengkapan secukupnya, seringan mungkin, simple.

Aku yakin bahwa caraku adalah cara yang paling baik dan menyenangkan. Niatku pun tidak jahat, aku hanya ingin dia merasakan kesenangan yang sama seperti yang kurasakan.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih menikmati perjalanan, kami lebih sering berdebat. Perjalanan yang seharusnya menyenangkan malah terasa melelahkan karena salah satu dari kami selalu berusaha menjadi orang lain. Aku merasa dia kurang bersemangat, sementara dia merasa tidak bisa menikmati hobi dengan caranya sendiri.

Beda Preferensi

Baru setelah beberapa kali mengalami hal yang sama, aku sadar bahwa meskipun kami sama-sama suka mendaki gunung, cara kami menikmatinya berbeda. Aku lebih menikmati perjalanan: berjalan jauh, menempuh jalur panjang, dan bergerak seringan mungkin. Bagiku, sebagian besar waktu di gunung memang dihabiskan dalam perjalanan, sehingga membawa barang yang ringan membuat pengalaman hiking jauh lebih nyaman.

Sementara istriku lebih menikmati pengalaman berkemah. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, baginya yang menyenangkan adalah duduk santai di tenda, memasak, dan menikmati suasana dengan nyaman. Karena itu, membawa perlengkapan tambahan adalah harga yang rela ia bayar selama membuat pengalaman berkemahnya lebih menyenangkan.

Akhirnya, kami memilih perlengkapan yang sesuai dengan cara masing-masing menikmati gunung. Aku condong ke cara-cara lightweight agar lebih ringan saat trekking, sementara istriku lebih memprioritaskan kenyamanan saat berkemah. Selama perlengkapannya tidak membuatnya terlalu terbebani, baginya itu bukan masalah.

Hal yang sama juga terjadi saat bersepeda.

Aku menikmati perjalanan jauh. Semakin panjang rutenya, melewati jalanan baru (yang kadang tidak mulus), semakin senang rasanya. Istriku justru lebih suka bersepeda santai, mampir ke kafe, menikmati tempat baru, lalu pulang tanpa terburu-buru.

Kalau kami sama-sama memaksakan preferensi masing-masing, mungkin setiap perjalanan akan berakhir dengan rasa kecewa.

Karena itu, yang kami lakukan bukan mencari siapa yang harus mengalah, tetapi mengatur agar setiap perjalanan bisa mengakomodasi kebutuhan kami berdua.

Saat bersepeda bersama, aku sengaja menyesuaikan kecepatan. Tujuannya memang bukan latihan, melainkan menikmati waktu bersama. Kami berhenti lebih sering, mampir ke tempat yang menarik, dan tidak terlalu memikirkan rata-rata kecepatan atau jarak tempuh.

Sebaliknya, ketika aku memang ingin berlatih, aku akan bersepeda sendiri. Dengan begitu aku bisa mengejar target latihan tanpa membuat istriku merasa harus mengikuti ritmeku.

Prinsip yang sama juga berlaku saat mendaki. Kami saling memberi ruang untuk menikmati gunung dengan cara masing-masing, selama tidak mengorbankan satu sama lain.

Ruang Kompromi

Lama-lama aku menyadari bahwa kesamaan hobi bukanlah alasan utama sebuah aktivitas terasa menyenangkan. Yang jauh lebih penting adalah komunikasi dan kompromi.

Karena pada akhirnya, selalu akan ada perbedaan. Bahkan di antara dua orang yang sama-sama menyukai gunung atau sama-sama suka bersepeda.

Kalau terus fokus pada perbedaan, kita akan selalu menemukan alasan untuk bertengkar.

Tetapi kalau fokus pada bagaimana saling mengakomodasi, hobi yang sama bisa menjadi ruang untuk quality time dan mengukir memori bersama, bukan ajang untuk saling memaksakan cara menikmati hidup.

#jurnal