Sepeda untuk Kehidupan Nyata
Ketika mulai ngulik sepeda, aku ngerasa selalu ada cara buat bikin sepeda lebih optimal. Ban yang lebih kecil dan ringan biar lebih kencang. Geometri yang agresif untuk efisiensi. Komponen yang lebih ringan untuk mengurangi bobot. Posisi berkendara yang dirancang untuk menghasilkan performa terbaik.
Semua itu masuk akal jika tujuan utamanya adalah kompetisi atau mengejar level performa tertentu. Sampai akhirnya aku membaca satu kalimat di subreddit xbiking:
xbiking is when you have to consider the tradeoffs on the different disciplines, figure out what's the right choice for you, and do things even if you're suboptimal.
Dulu, aku mengira xbiking hanyalah tren yang berfokus pada penampilan sepeda. Sepeda dengan warna menarik, ban besar, handlebar yang unik, frame klasik, dan berbagai komponen yang dirakit sedemikian rupa agar terlihat menarik. Aku tidak benar-benar memahami apa yang membuatnya berbeda dari sekadar hobi merakit sepeda.
Setelah lebih banyak membaca lagi, ternyata filosofi dibalik gaya ini adalah tentang mempertimbangkan berbagai kompromi di antara disiplin bersepeda dan menemukan pilihan yang tepat untuk diri sendiri meskipun itu bukan yang paling optimal. Dari situ aku memahami cara membangun sepeda dengan perspektif yang berbeda.
Tidak harus menjadi yang terbaik
Aku bukan atlet. Aku tidak sedang mempersiapkan diri untuk balapan, mengejar podium, atau mencatatkan waktu terbaik di suatu rute. Sepeda bagiku adalah alat transportasi, sarana berolahraga, sekaligus cara menikmati perjalanan. Kadang aku menggunakannya untuk pergi bekerja, kadang untuk menjelajahi jalan-jalan kecil di pedesaan, dan kadang hanya untuk menghabiskan waktu di luar rumah.
Kebutuhanku tidak selalu sama. Jalan yang kulewati tidak selalu mulus. Aku ingin bisa melaju dengan cukup cepat tanpa harus mengorbankan kenyamanan. Aku juga ingin menempuh jarak yang lumayan jauh, bisa membawa barang, dan tetap menikmati perjalanan ketika kondisi jalan tidak ideal.
Mencoba mengoptimalkan sepeda untuk satu tujuan saja justru bisa membuatnya kurang cocok untuk kebutuhan lainnya.
Di sinilah aku merasa cara berpikir ala xbiking masuk akal. Bukan karena aku tidak suka peningkatan performa, tapi karena kita tidak harus menjadikan performa sebagai satu-satunya ukuran.
Memilih kompromi yang tepat
Setelah dipikir-pikir, sepeda yang ideal bagiku bukan sepeda yang paling cepat, paling ringan, atau paling nyaman dalam segala kondisi. Sepeda seperti itu mungkin bahkan tidak ada. Yang aku cari adalah sepeda yang cukup baik untuk berbagai kebutuhan nyata dalam hidupku.
Aku perlu geometri yang nyaman untuk perjalanan panjang, tetapi tidak sampai membuat sepeda terasa lamban. Aku butuh ban yang cukup cepat di aspal, tetapi tetap mampu meredam getaran ketika melewati jalan yang kasar. Aku ingin posisi berkendara yang nyaman untuk perjalanan sehari-hari, tanpa kehilangan kemampuan untuk mengayuh dengan bertenaga ketika dibutuhkan.
Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Ban yang lebih lebar mungkin menambah bobot dan hambatan gulir (rolling resistance) pada permukaan tertentu, tetapi bisa memberikan kenyamanan dan kepercayaan diri di jalan yang tidak rata. Posisi yang lebih tegak mungkin tidak seefisien posisi agresif dalam melawan angin, tetapi bisa terasa lebih menyenangkan untuk perjalanan santai.
Aku tidak perlu menghilangkan semua kekurangan dari sepedaku. Aku hanya perlu memahami kekurangan mana yang bisa kuterima dan kelebihan mana yang benar-benar akan kugunakan. Aku jadi harus belajar, kompromi seperti apa yang paling masuk akal untuk kehidupanku?
Optimize for fun, not performance
Gagasan ini mengingatkanku pada buku Just Ride karya Grant Petersen. Bersepeda tidak harus selalu menjadi proyek untuk meningkatkan performa. Kita tidak harus terus-menerus mengejar kecepatan, efisiensi, atau angka yang lebih baik.
Terkadang, kita hanya ingin mengayuh sepeda, menikmati udara pagi, melewati jalan yang belum pernah dijelajahi, atau berhenti sebentar untuk mengambil foto.
Bukan berarti data, teknologi, dan performa tidak penting. Semua itu ada gunanya. Namun, bagiku alat-alat itu seharusnya membantu kita menikmati kegiatan bersepeda, bukan malah menentukan apakah sebuah perjalanan layak dinikmati atau tidak.
Aku bisa saja memiliki sepeda yang lebih cepat, tetapi jika sepeda itu membuatku enggan melewati jalan tertentu atau kurang praktis untuk kebutuhan sehari-hari, apakah itu benar-benar peningkatan? Jika tujuan utamaku adalah lebih sering bersepeda dan menikmati lebih banyak perjalanan, jawabannya belum tentu.
Bagiku, sepeda yang tepat adalah sepeda yang membuatku ingin terus menggunakannya.
Bukan soal menolak optimalisasi
Ada perbedaan antara mengoptimalkan sesuatu untuk tujuan tertentu dan mencoba mengoptimalkan semuanya terus-menerus. Yang pertama membantu kita membuat keputusan. Yang kedua bisa jadi pencarian tanpa akhir.
Selalu ada komponen yang lebih ringan, ban yang lebih cepat, atau konfigurasi yang lebih sesuai untuk kondisi tertentu. Jika terus mengejar kesempurnaan, kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu memikirkan sepeda daripada benar-benar mengendarainya.
Aku lebih tertarik pada sepeda yang cukup baik untuk sebagian besar kebutuhanku daripada sepeda yang sempurna untuk satu skenario, tetapi merepotkan untuk skenario lainnya.
Sepeda yang cocok dengan kehidupan
Pada akhirnya, pembelajaran yang aku dapatkan bukan soal membuat sepeda jadi yang tercecpat, melainkan cara berpikir di baliknya.
Aku ingin sepeda yang cocok dengan kehidupanku, bukan kehidupan yang harus menyesuaikan diri dengan sepeda.
Aku ingin bersepeda untuk pergi bekerja, berolahraga, menjelajahi tempat baru, dan menghabiskan waktu bersama orang yang kusayangi. Aku ingin bisa menikmati perjalanan tanpa merasa setiap kayuhan harus menghasilkan sesuatu yang terukur.
Aku tahu ada kompromi dalam setiap pilihan. Aku bisa menerimanya selama aku memahami alasan di balik pilihan itu. Aku hanya perlu menemukan sepeda yang tepat untuk diriku sendiri, lalu menggunakannya. Optimize my bike for the life I actually live.